MakassarTech

Pengamat IT : Dua Cara Minimalisir Hantu Hoax

COMPAKSULAWESI.COM – MAKASSAR – Hoax sudah menyendi dalam demokrasi. Fakta membuktikan, hoax tumbuh seubur setiap menjelang pemilihan gubernur-wakil gubernur (pilgub) dan pemilihan bupati-wakil bupati serta wali kota-wakil wali kota (pilkada/pilwali).

Hoax bukan lagi sekadar informasi kebetulan nangkring di layar telepon selular (ponsel). Hoax hadir karena rekayasa dan dibuat secara sadar oleh oknum tertentu. Fenomena itulah memantik kesadaran Pengurus DPD I KNPI Sulsel menggelar Fokus Group Discussion (FGD) bertema Hoax Dalam Pusaran Demokrasi di Sekretariat KNPI Sulsel, Jalan Baji Areng, Makassar. Jumat (19/1/2018) sore.

Aswar menilai, hoax sudah menjadi hantu berwujud dalam sendi demokrasi.  “Kandidat yang terpilih dalam pilkada karena menggunakan hoax akan menciptakan pemerintahan yang berbahaya, sebab kandidat itu sesungguhnya telah melembagakan kejahatan,” kata Aswar.

Sementara Anwar Abu Gaza memaparkan kriteria hoax dan trik menangkal hoax dalam perspektif pengamat teknologi informasi, Anwar sepakat bahwa hoax tidak bisa dimusnahkan, ia hanya bisa dikendalikan dan diminimalisir.

“Ada dua hal yang perlu dilakukan dalam menangkal HOAX, baik dimedia Sosial, Media Online maupun Media Elektronik dan Cetak yakni Teknik Pengkodean Data dan Analisa Data Storrage”, beber Anwar.

Melalui kedua langkah ini, menurut Anwar, Informasi Hoax dapat diketahui sumber – sumber penyebar Hoax maupun penerimanya melalui Teknik Pengkodean, sebab pengguna media social kebanyakan menggunakan teknologi informasi sementara teknik pengkodean bahasa mesin ini dapat mendeteksi Hoax melalui bilangan binner yang terdiri dari angka 0 dan 1, yang kemudian diubah menjadi bahasa manusia. Perangkat yang digunakan pun dapat dideteksi dengan cara ini.

Langkah kedua, kata Anwar, melalui Analisa Data Storage, cara ini terbilang sangat mudah dengan kemajuan teknologi informasi, kita dapat menyimpan data dan mengolah data dengan memory card dan semacamnya. Sehingga pengguna dapat memilah mana Hoax dan bukan.

Sebagai contoh, Penyebar Hoax telah menyusun rencana untuk melakukan penyerangan pada kandidat tertentu sebulan sebelum informasi Hoax itu beredar, alat penyimpanan data yang digunakan aplikasi whatshap misalnya telah mendeteksi Hoax tersebut, namun data tersebut tidak serta merta langsung disampaikan ke Publik, bahkan percakapan – percakapan melalui whatshap dapat diketahui apa saja yang menjadi trending topic meski terdapat puluhan ribu grup whatshap sebab kapasitas media penyimpanan yang dimiliki penyedia media sosial semacam whatshap, line, instagram, dll terbilang sangat besar, Beber Anwar.

Bahkan tingkat elektabiltas para calon kepala daerah pun dapat dideteksi melalui perangkat penyimpanan akun media sosial, jika asumsinya berdasarkan percakapan. Hal ini perlu diantisipasi para calon kepala daerah sebab cara ini dapat menumbangkan elektabilitas para kandidat yang memiliki elektabiltas tertinggi dari lawan politiknya, terang Anwar Abu Gaza.

Diskusi yang dipandu Irwan Ali itu menghadiri lima narasumber utama.  Mereka adalah Pengamat Politik Unhas Dr Adi Suryadi Culla, Pengamat Komunikasi Politik dan Komisioner KIP Sulsel Dr Aswar Hasan, Manager Produksi Tribun Timur AS Kambie, Pengamat Media Sosial dan Direktur Win & Wise Communication Anwar Abu Gaza, serta Wakil Sekretaris KNPI Sulsel Syamsul Bachri Maraga.

 

 

Penulis : Didit || Editor : Elis

 

 

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close