Politik

Nurdin Abdullah disebut Gubernur Zaman Now

COMPAKSULAWESI.COM – MAKASSAR – Sulawesi Selatan merupakan salah satu propinsi di kawasan Indonesia Timur yang paling maju di Indonesia. Di tempat ini pula ajang Pilkada serentak berlangsung dengan sengit. Berbagai serangan demi serangan dilancarkan olah masing-masing pasangan calon untuk merebut simpati masyarakat Sulsel.

Tak pelak warga Sulsel mesti cermat melihat visi misi dan program kerja yang diusung setiap paslon tersebut. Di Sulsel ini pula, PDI Perjuangan memiliki jagoan yang bisa diandalkan untuk dipilih. Jagoan itu adalah pasangan Calon Gubernur Prof Nurdin Abdullah dan Calon Wakil Gubernur Nurdin Sudirman Sulaiman atau Prof Andalan yang diharapkan bisa menjadi Gubernur Zaman Now yang siap untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat Sulsel.

Seperti apa kans Prof Andalan dalam peta pertarungan politik di ajang Pilkada serentak ini? Berikut penuturan Anggota DPR RI dari Dapil Sulsel Syamsu Niang dalam perbincangan yang dikutip dari Gesuri.id, Simak petikannya :

Sosok Gubernur seperti apa yang cocok untuk memimpin Sulsel menurut Anda?

Saya kira, untuk pemimpin Sulsel ke depan itu memang harus orang yang cerdas, merakyat kemudian visioner dan memahami betul tentang apa yang akan dikerjakan.  Di Sulsel, dalam hal ini mengerti budaya-budaya kearifan lokal Sulawesi Selatan.

Kemudian, tentu dia harus tegas. Dia punya track record, ya minimal pengalaman dalam kepemimpinan. Tidak pernah terlibat korupsi, tidak pernah terlibat asusila. Jadi saya kira orang yang bisa memimpin ya yang seperti itu.Intinya memahami birokrasi, paham politik dan berjiwa entrepreneur.

Jadi intinya itu ada 3: paham birokrasi, mengerti politik dan berjiwa entrepreneurship.

Tantangan terberat apa kira-kira yang akan dihadapi oleh Gubernur terpilih nantinya?

Tantangan yang paling berat itu, bagaimana pertumbuhan ekonominya lebih bagus dibanding yang sekarang.

Memang kalau pertumbuhan ekonomi yang sekarang bagaimana?

Sekarang ini bagus. Makanya minimal yang sudah bagus itu dilanjutkan, ditingkatkan lagi. Yang tidak bagus ya jangan diambil.

Intinya adalah pertumbuhan ekonominya lebih bagus, kemudian karena sulsel adalah orangnya keras, maka orang yang akan memimpin adalah orang yang harus memahami budaya-budaya 4 suku di Sulsel yaitu Bugis, Makassar, Mandar, Toraja.

Jadi dia harus paham betul kearifan lokal dan budaya. Inilah yang menjadi motivasi mereka untuk lebih mengembangkan cikal bakal kepemimpinan mereka dalam rangka untuk mengembangkan kepemimpinan mereka untukk Sulsel yang lebih baik ke depannya.

Dengan adanya 4 suku besar di Sulsel, berati Gubernur terpilih nantinya harus bisa mengayomi?

Ya minimal itu. Makanyanya itu cagub ini, dia harus memahami betul filosofi keempat etnis ini. Kalau dia tidak pahami itu akan dia kesulitan.Walaupun sekarng ini yang seperti-seperti ini sudah tidak berlaku lagi di era demokrasi. Tetapi kenyataanya masih tetap ada, begitu kan?! Primodialisme seperti ini kan sudah gak ada lagi dalam kontestasi demokrasi tapi hal yang seperti ini, isu yg seperti ini juga ada.Tapi maksud saya bukan di situ.

Maksud saya, sebagai seorang gubernur nanti akan terpilih kedepannya itu, dia harus melebur dan mengayomi dan memahami betul filosofi keempat suku ini. Dalam rangka membangun sulsel kedepannya. Kalau ini dipakai, menyatukan semua energi ini, saya kira dia akan menjadi pemimpin yang kuat di Sulsel.

Tadi kan sempat disinggung soal masalah ekonomi, apakah di Sulsel masalah yang paling penting utk menjadi fokus calon gubernur adalah masalah ekonomi? Atau yang lain, seperti pendidikan atau infrastruktur?

Saya kira, disamping pertumbuhan ekonomi, perbaikan infrastruktur. SDM nya jg harus diperbaiki. Karena terus terang skrng ini untuk membangun suatu peradaban atau membangun suatu provinsi yg lebih baik, tentu SDM-nya harus bagus.

Makanya otomatis pendidikannya itu harus diperbaiki. Infrastruktur pendidikan harus diperbaiki, guru-gurunya harus dikembangkan SDMnya dan muatan-muatan kreatifitas dalam rangka untuk mengembangkan perguruan tinggi yang berkualitas di Sulsel ini, itu harus betul-betul diubah.

Jangan Sulsel menjadi opini bahwa mahasiswanya hanya tukang demo gitu. Image yang seperti itulah yang harus dirubah. Menjadikan bahwa Sulsel itu sama dengan Jogja sebagai tempat pendidikan, khususnya di Indonesia bagian Timur. Bukan tempat sarangnya untuk anarkis, demo-demo dan sebagainya. Nah itulah yang seorang pemimpin harus paham, harus mengerti juga yang seperti itu.

Berarti seorang Gubernur itu penting juga dong pak untuk mengerti dan memahami generasi muda?

Iya lah. Generasi milenial skrang ini yg harus dipahami. Karena potensi-potensi generasi milenial ini sangat kuat sekali, dan era yg skrng ini yg jaman now ini memang gubernur itu ya jangan gaptek lah. Itu makanya tadi harus visioner, yang memahami teknologi.

Menurut Anda Prof Andalan ini sudah memenuhi kriteria?

Nah, saya kira kalau Prof Nurdin kan sudah teruji 2 periode jadi bupati. Dia jg akademisi, dia praktisi memahami birokrasi kemudian dia politisi yg sudah pasti dia paham politik. Dan dia juga entrepreneurship. Dan pula dia bukan hanya akademisi saja, dia profesor.

Jadi dia profesor, paham birokrasi, paham politiik dan dia berjiwa entrepreneurship. Kalau ini yang memimpin Sulsel, saya kira track recordnya juga bersih dan 2 periode memimpin bupati di Bantaeng.

Yang awalnya kabupaten tertinggal sekarang jadi kabupaten terbaik tidak hanya di Indonesia tapi juga di dunia. Ya karena yang namanya pemimpin itu harus punya networking, jaringannya banyak. Prof Andalan ini kerja nyatanya sudah jelas.

Berarti Prof Andalan ini mewakili generasi milenial?

Ya, mewakili generasi muda. Nah, inilah pertautan yang sangat serasi sekali. Secara yang satu itu matang dalam politik, dia akademisi, dia matang secara birokrasi dan juga berjiwa entrepreneurahip.Kemudian didampingi orang yang masih muda, masih segar untuk membantu.

Kalau ini dipadukan, saya kira ini jadi suatu kekuatan yang dahsyat nanti di Sulsel dan sulsel akan menjadi lokomotif pembangunan di Indonesia timur, jadi barometerlah. Minimal Sulsel akan menjadi provinsi yang baru dalam rangka untuk pengembangan lokomotif pembangunan di Indonesia.

Langkah-langkah Prof Andalan untuk menggaet perhatian milenial seperti apa?

Dengan ambiance di Sulsel, karena saya beberapa kali lihat pergerakan mereka dengan mendekati pemilih pemula.

 Anak muda di Sulsel sangat antusias sekali dengn Sudirman karena mereka merasa terwakili. Hal ini karena Prof Andalan paham bentul apa yang diinginkan anak muda. Terutama dalam pengembangan teknologi IT.

Kemudian gaya-gaya gaulnya yang merakyat itu gaya gaulnya dengan generasi milenial itu paham betul dengan apa keinginan anak muda yg gaul, yang sering di warkop, dia paham betul. Sebenarnya Prof Andalan ini sudah masuk dalam teknokrat, dia sudah melanglang buana ke luar negeri. Nah, mungkin dari ilmunya itulah dia pakai dalam rangka pendekatan kepada generasi milenial.

Pernah ada dialog langsung antara Sudirman dengan generasi muda?

Ya pernah ada dialog. Dia diundang dialog dgn mahasiswa, anak muda, anak SMA. Kan sekarang ini lagi sering try out, nah Sudirman banyak memberikan motivasi kepada anak muda itu. Mereka ini sangat merespon. Sehingga tahu kalau ini nih wakil mereka. Karena yang calon lain pada tua-tua semua. Dia anak muda banget. Jadi saya kira pasangan Prof Nurdin Abdullah dan Andi Sudirman satu pasangan yang sangat pas dan saya yakin Insya Allah Pemilu yang akan datang ini, mereka lah yang menang.

Prof Andalan punya program kerja andalan, bagaimana caranya menagih janji kampanye mereka nanti?

Saya kira kalau Prof Nurdin selama ini, karena terbukti 2 periode menjadi bupati Bantaeng, saya kira apa yang menjadi janji-janji politiknya itu dia akan dipenuhi. Karena dia adalah orangnya komitmen. Beliau pernah berkata “saya tidak akan menjanji kalau saya yakini kalau saya tidak mampu lakukan,” kemudian dia bilang, “Minta lah yang lain,” begitu.

Saya pernah satu kali sama-sama dampingi, kebetulan saya termasuk master kampanye dalam satu kabupaten. Ada satu permintaan masyarakat “Apakah nanti kalau bapak terpilih mampu melakukan ini?” dia blng “Kalau itu saya barangkali tidak bisa, tapi minta lah yang lain”.

Jadi bagi Prof Nurdin, lebih baik tidak pernah berjanji jika dia merasa tidak mampu utk memenuhinya?

Iya.. Kalaupun dia pernah berjanji terus dia tidak tepati. Dia akan kembali menyampaikan kepada rakyat bahwa saya tidak bisa melakukan ini karena persoalan-persoalan begini.  Jadi dia tetap apa yang menjadi visi misi mereka, janji-janji mereka, kalau mereka tidak mampu melakukan, dia akan kembali sampaikan kepada masyarakat “Saya sudah berusaha untuk melakukan tetapi ada kendala yang sifatnya begini sehingga saya tidka bisa lakukan” Intinya, dia tidak akan berjanji jika tidak mampu dilakukan.

Jadi bisa dikatakan tidak sulit menagih janji paslon Prof Andalan?

Tidak sulit. Karena Prof Nurdin itu seperti tidak ada sekat, enak dia didekati, enak diajak bicara, enjoy gitu.

Kayak protokolernya ini tidak terlalu ketat. Dia ini betul-betul merakyat. Orangnya sederhana, jadi enak ngomongnya ada sesuatu bisa diselesaikan secepatnya. Pendekatan programnya itu, pendekatan kewilayahan. Sudah jelas bahwa daerah Tana Toraja (Tator) dijadikan destinasi wisata bertaraf internasional.

Saya kira itu bisa saja karena Tator dr dulu memang seperti itu, jadi tinggal dipoles sedikit ya bisa dan dia punya jaringan. Seperti juga di Malino ada kawasa pariwisata juga yang cukup bagus dan selama ini belum ditata dengan baik. Prof Nurdin ini pendekatakan wilayahnya bagus dan dia sudah buktikan dari nol menjadi yang terbaik.

Editor : Didit

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close