MakassarSerba Serbi

Pengusaha Kapal Besi Pertama di Pelabuhan Paotere

COMPAKSULAWESI.COM – MAKASSAR – Paotere adalah suatu pelabuhan perahu yang terletak di Kecamatan Ujung Tanah, Makassar, Sulawesi Selatan. Pelabuhan yang berjarak ± 5 km (± 30 menit) dari pusat Kota Makassar.

Pelabuhan Paotere (Foto : Wikipedia)

Ini merupakan salah satu pelabuhan rakyat warisan tempo doeloe yang masih bertahan dan merupakan bukti peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo sejak abad ke-14 sewaktu memberangkatkan sekitar 200 armada Perahu Phinisi ke Malaka.

Kala itu, seorang pengusaha dari bumi masserempulu atau julukan Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. merintis usaha bongkar muat barang menggunakan Kapal Besi. dikatakan Kapal Besi atau dalam bahasa bugis dinamakan Kappala Bessi. sebab ditahun 1970an Kapal yang terbuat dari bahan besi masih terbilang langka dan ini merupakan satu – satunya di Makassar ketika itu.

Pengusaha Kapal Besi ini dipanggil Puang Gaffar, hal ini terungkap dari penuturan pedagang pasar Enrekang saat COMPAKSULAWESI.COM bertandang ketempatnya, Minggu (31/3). pedagang ini bernama Puang Neni.

Dulu, saat Puang Gaffar masih hidup tak ada tidak mengenal beliau di kampung kami. bahkan di Pelabuhan Paotere tempat ia beraktifitas sehari – hari beliau selalu ramah pada semua orang, beber Pung Neni.

Dia (Puang Gaffar) merupakan salah satu pengusaha kenamaan diera 1970an keatas, selain H. M. Asyik (Pemilik Hotel Raodah yang kini berpindah tangan menjadi Novotel Grand Shayla), Jusuf Kalla, Aksa Mahmud dan Alwi Hamu. kapal besi milik Puang Gaffar sering beroperasi ke negeri sebelah (Malaysia) dan wilayah Indonesia Timur, Jawab Neni mengenang masa itu.

Pada jantung ekonomi  rakyat diera dahulu ini, berbagi jenis nama kapal hampir dirapalkan oleh penduduk asli daerah pelabuhan, seperti sebutan lete, lambo, pajala, karoro, patorani, dan sandeq yang bersandar di pinggir Pantai. Asal muasal kapal tersebut kebanyakan nelayan dari Enrekang, Parepare, Mandar, Maros, dan Buton.

Pelabuhan Paotere sekarang ini masih dipakai sebagai pelabuhan perahu-perahu rakyat seperti Phinisi dan Lambo dan juga menjadi pusat niaga nelayan, di mana dapat dilihat di sepanjang jalan di pelabuhan berjejer toko-toko yang menjual berbagai macam jenis ikan kering, perlengkapan nelayan, serta beberapa restoran seafood.

Selain Puang Gaffar, ada juga Pengusaha Beras dari Desa Teteaji Kabupaten Sidenreng Rappang (SIDRAP) bernama Abd Salam atau dipanggil Puang Salam, dia merupakan pengusaha terbesar di kawasan Indonesia Timur kala itu.

Puang Salam, memulai usahanya di Jalan Gunung Bawakaraeng (letak kediamannya persis diantara Hotel M-Boutique dan SMA Negeri 1 Makassar) hanya Jalan Sungai Carekang yang menjadi pemisah jalan tersebut.

Lokasi praktek dr Hans, merupakan saksi sejarah yang juga dokter hans juga merupakan dokter keluarga Puang Salam, dan saat ini masih membuka praktek di Jalan Sungai Carekang (Kawasan Minuman Khas Sarabba).

 

Rumah Praktik dr Hans di Jalan Sungai Carekang, zaman berganti dokter praktiknya pun gantian.

“Dahulu, ketika ingin membeli kebutuhan beras kami hanya mendatangi kediaman Puang Salam untuk membeli beras, selain paling laris juga saat itu masih jarang pedagang beras yang dadap menyuplai beras ke wilayah Indonesia Bagian Timur. bayangkan, jika tiap harinya mengirimkan beras karungan pada lintas pulau hingga papua sana”, kata tetangga dr. Hans namun enggan menyebutkan nama sebenarnya pada kami.

“Beliau (Puang Salam), pengusaha juga sangat Sombere sama warga makassar kala itu. Kabarnya, Puang Salam memiliki 11 orang anak satu diantaranya berprofesi sebagai dokter anak di Rumah Sakit Wahidin”, bebernya.

Menurutnya, ada perbedaan masa ketika pengusaha 1970an dan sekarang. dahulu masih kurang persaingan namun kini malah sebaliknya. jadi tidak salah, jika diera saat ini nama Sungai Carekang dan Gunung Bawakaraeng masih terdengar ditelinga kita hingga kemudian dijadikan kawasan kuliner, jelasnya.

 

Editor : Didit 

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close