Opini

Opini: Indonesia Zona Krisis Literasi

Indonesia masih berada pada zona merah kedunguan. Tingkat literasi Indonesia mengacu kepada data The Word Most Literate Nation Study, Bangsa Indonesia berada pada peringkat ke 60 dari 61 negara. Fakta ini semakin memperkuat bahwa Indonesia masih berada pada zona krisis berliterasi.

Padahal tidak berlebihan jika dengan kegemaran berliterasi maka individu tersebut akan tumbuh kembang menjadi manusia yang cerdas.

Padahal seharusnya dengan kemajuan dunia digital dapat memberikan banyak manfaat untuk mengakses sebuah informasi. Informasi dari berbagai belahan dunia bisa sekejab di dapatkan melalui teknologi. Namun, kemajuan itu terasa nihil tak berarti mengingat fakta literasi bangsa Indonesia sangat rendah. Rendahnya minat baca membuat bangsa Indonesia memelihara kedunguan yang sistematis.

Kedunguan Sistematis Nasional berawal rendahnya minat membaca rakyat Indonesia. Sehingga rakyat Indonesia sangat mudah diadu dengan isu-isu hoax. Kedunguan ini akan semakin tercermin, yaitu gagapnya mereka mengucapkan kosakata karena kosakatanya terbatas.

Jika Kedunguan Sistematis Nasional ini terus menerus terjadi maka akan mengakibatkan aset bangsa kita (generasi muda) nantinya akan buta akasara.

Bila bangsa Indonesia masih rendah dalam budaya literasi. Maka, bangsa Indonesia masih memelihara kedunguan. Oleh sebab itu, Kedunguan Sistematis Nasional diperoleh dari rendahnya budaya literasi. Lalu kepada siapa kita harus berpasrah? Tentunya orang-rang yang ikut terlibat dalam pengesahaan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan mereka yang masih memepertahakan UU tersebut.

That’s logic!
Budaya literasi menjadi hal yang sangat menakutkan bagi pemelihara akal sehat. Sebab, generasi muda tidak lagi mampu berpikir secara metedeologi. Karena referensi mereka atau argumen mereka tidak akan pernah tangguh. Mengapa demikian? Karena budaya literasi menjadi bukti kepekaan sesoorang terhadap lingkungannya. Olehnya itu, diperlukan literasi untuk mengguncang dunia.

Bagaimana mungkin, bangsa Indonesia bisa bersaing jika mereka kurang mendapatkan informasi? Informasi yang bisa dipercaya adalah informasi berdasarkan penelitian. Misalkan mahasiswa dapat memperoleh informasi penelitian di kampus dengan membaca makalah, jurnal, skripsi, tesis, atau pun disertasi. Sangat mudah memperolehnya. Masyarakat umum dapat memperoleh informasi penelitian melalui jurnal nasional maupun internasional melalui handphone yang ia genggam.

Bangsa yang sudah dewasa ini harus berani untuk revolusi kedunguan menjadi this time to over thingking. Star thingking, mungkin sudah sangat terlambat mengingat bangsa Indonesia sudah 73 tahun dan akan memasuki tahun ke 74nya. Tetapi, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki literasi bangsa Indonesia.

Bangsa Indonesia harus segara melakukan Star thingking agar kekhawatiran buta aksara segera dibantah.

Penulis: Andi Agus (Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unismuh Makassar)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close