Opini

Opini: Hoax Bukan Hal Menakutkan  

Kita terlalu berlebihan dalam merespon pemberitahuan. Padahal, pemberitahuan itu tidak akan bermakna jika kita tidak responsnya.

Tujuan pembuat pemberitahuan palsu atau bohong yang bersifat menipu (hoax) agar yang dituju meresponnya. Hoax sudah dipastikan berita bohong. Itu sudah jelas. Namun, sebelum menjadi hoax kita butuh pikiran untuk menganalisis pemberitahuan tersebut. Kemana? Pihak pembuat hoax? Tidak.

Karena mereka akan berpotensi membohongi kita kedua kalinya. Lalu? Kepihak berwajib! Tapi butuh waktu untuk membuktikan hal tersebut.

Sebuah pemberitaan itu belum bisa dijadikan hoax jika pemberitaan itu belum masuk kepada tahap verifikasi atau konfirmasi. Sebab penentu pemberitahuan itu palsu atau bohong (hoax) diuji oleh akal pikiran melalui sumber data lain. Dengan adanya potensi berita hoax maka kecakapan dalam menganalisis semakin diuji. Sehingga, tidak mudah tertipu.

Tujuan hoax jelas, jika anda tertipu berarti hoaxnya bekerja dengan baik. Jika sebaliknya, maka hoaxnya bekerja tidak baik. Hoax bukan hal yang menakutkan, apalagi harus diantisipasi. Kita tidak dapat membendung hoax tanpa pengetahuan menganalisis. Hoax memberikan daya berpikir yang baik, karena kita tidak mudah percaya yang membawa manusia masuk kedalam pikiran rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu inilah, yang mengantar manusia kepada pembuktian sehingga menjadi pengetahuan. Tidak berlebihan jika kita mengatakan hoax merangsang cara berpikir masyarakat terhadap pemberitahuan.

Hoax meningkatkan daya berpikir analisis. Hal yang lebih menakutkan dari hoax adalah berita abu-abu (yang berpotensi benar dan berpotensi salah) seperti, rumor, isu, dan gosip. Ketiga hal tersebut harus lebih diwaspadai karena belum masuk pada tahap verifikasi atau konfirmasi secara resmi. Hoax itu bukan sebaran, tapi hasil dari sebaran. Dengan kata lain, hoax adalah vonis. Sudah tidak diragukan kebohongannya! Hoax tidak dapat beraksi karena berita tersebut sudah di vonis. Berita yang tidak benar atau direkayasa adalah bentuk kejahatan yang dilakukan oleh oknum tidak bertanggungjawab.

Kita terlalu berekasi berlebihan, ingin mematikan hasil tapi tidak berupaya untuk mematikan akarnya. Daya berpikir dan menganalisis harus selalu diuji oleh berita. Misalkan, Charles Darwin mengeluarkan teori evolusi. Itu hoax atau bukan? Tentu kita akan ragu, karena pembuktian manusia bukan hasil evolusi kera. Sementara masih selalu dipublikasikan tentang teori evolusi. Tetapi siapa yang sudah menvonis Charles Darwin sebagai penyebar hoax? Tidak ada! Mengapa? Karena kita tidak berlebihan menanggapi suatu persoalan.

Charles Darwin mengatakan teori bukan fakta. Teori itu adalah kumpulan dari hipotesis-hipotesis jauh berbeda dengan fakta. Dalam ruang akademik, teori masih bisa direkontruksi berbeda dengan fakta tidak bisa dirubah.

Jangan berlebihan menyikapi rumor, isu, dan gosip agar tidak mudah di adu domba. Karena ketiganya berpotensi menjadi hoax begitu pun sebaliknya akan berpotensi menjadi benar. Kita harus mengaktifkan cara berpikir kritis, sehingga berbagai persoalan kita tidak langsung percaya. Kepekaan berpikir diuji dari ketidak percayaan kita terhadap suatu masalah. Agar kita selalu mencari fakta-fakta lain.

Penulis: Andi Agus (Mahasiswa Pascasarjana Unismuh) 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close