Politik

Arwo Apresiasi Panggung Politik Yang Digagas Kala Teater

COMPAKSULAWESI.COM – MAKASSAR – Bagaimana teater merespons hiruk pikuk politik yang merajai perbincangan sehari-hari? Salah satunya ialah menceritakan kembali kisah-kisah di balik kekuasaan, keinginan menjadi wakil rakyat, karakter seorang wakil rakyat, janji-janji Presiden, demokrasi yang diselewengkan, dan sejumlah kisah lainnya.

Panggung Politik digagas Kala Teater sebagai upaya untuk mengingat kembali peristiwa-peristiwa politik yang telah berlangsung. Panggung Politik merupakan panggung penceritaan kembali realitas politik Indonesia saat ini, Kata Direktur Kala Teater Shinta Febrianty, Selasa (2/4/2019).

Dia menjelaskan, Panggung Politik menampilkan 6 pertunjukan Monolog dari kelam politik yang berlangsung pada 4 dan 5 April serta 7 dan 8 April 2019 di Gedung Kesenian Societeit de Harmonie, Makassar.

Pertunjukan monolog yang akan ditampilkan diantaranya Wakil Rakyat yang Terhormat karya Putu Fajar Arcana, Aktor Indrawaty Idris, Sutradara Syahrini Fathi Trik karya Putu Wijaya, Aktor Sukarno Hatta, Sutradara Syahrini Fathi Demokrasi karya Putu Wijaya, Aktor Meta Herdiyanti, Sutradara Arwan Irawan.

Pidato karya Putu Fajar Arcana, Aktor Wawan Aprilianto, Sutradara Nurul Inayah Perempuan dan Panci Nasi karya Nurul Inayah, Aktor Waode Nurul Hasanah, Sutradara Nurul Inayah Nyonya juga Caleg karya Lily Yulianti, Aktor dan Sutradara Luna Vidya.

Sementara itu, A. Razak Wawo disapa Arwo sebagai salah satu Caleg DPR RI Dapil 1 Sulsel dari PDI Perjuangan mengatakan sangat apresiasi dengan adanya Pertunjukan yang dilaksanakan Kala Teater di Gedung Kesenian Societeit de Harmonie Makassar.

Ketua IKA Unhas Jabotabek sekaligus Pemerhati Budaya Lokal Sulsel ini menambahkan, dengan kekayaan Budaya dan seni Lokal Kabupaten / Kota masing – masing, maka potensi tersebut dapat menjadi sisi Pemberdayaan masyarakat yang patut jadi perhatian bila terpilih duduk di DPR RI, jelasnya.

Adapun kisah-kisah dalam monolog ini menyoroti karakter wakil-wakil rakyat yang memiliki moral yang buruk demi meraih kekuasaan. Kesalahan dijadikan kebenaran, bahkan perilaku menyimpang untuk ketenaran politik dibiarkan terjadi. Rakyat diperalat untuk meraih tahta atas nama rakyat.

Apakah kebohongan-kebohongan politik tersebut adalah gambaran realitas politik Indonesia saat ini? Realitas yang memecah belah dan menjemukan masyarakat Indonesia? Penontonlah yang akan menjawabnya, pungkas Shinta Febrianty.

 

Editor : Didit

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close