Pendidikan

Penelitian Tim PKM-PSH UNM Terkait Dibalik Kelong Pepe-pepeka Ri Makkka Mampu Membuat Penari Kebal Api

COMPAKSULAWESI.COM — Makassar – Pertumbuhan agama Islam turut memberi sumbangsi bagi pertumbuhan budaya etnis Makassar akibat pembaruan antara budaya tradisi dengan syariat Islam. Salah satu seni tradisional yang berkembang di masyarakat Makassar sebagai akibat dari masuknya nilai-nilai Islam adalah tari Pepe-pepeka Ri Makka. Dalam pementasannya tari Pepe-pepeka Ri Makka dilakonkan oleh beberapa laki-laki tua atau muda. Pada saat puncak tarian, sambil diiringi kelong Pepe-pepeka Ri Makka para pemain akan memegang obor dan akan mengarahkan api ke tubuhnya atau ke tubuh penonton. Namun anehnya mereka sama sekali tidak merasakan kepanasan atau melepuh terbakar. Hal inilah yang menyebabkan kelong Pepe-pepeka Ri Makka sering diasumsikan sebagai ucapan mantra anti apinya Nabi Ibrahim yang dilafaskan dalam bahasa Makassar.

Keunikan tari Pepe-pepeka Ri Makka inilah yang menjadi topik menarik bagi tiga mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Makassar (UNM), yaitu Muhammad Fajrin Ramadhan, Rudyman, dan Muhammad Fachmy Achdan untuk mengungkap makna lirik kelong Pepe-pepeka Ri Makka dan pengaruhnya terhadap tarian Pepe-pepeka Ri Makka, serta mengungkap penyebab kemampuan atraksi api para penari Pepe-pepeka Ri Makka.

Muhammad Fajrin Ramadhan sebagai ketua tim mengatakan bahwa penelitian ini penting dilakukan karena saat ini kemampuan debus yang berkembang di masyarakat masih sangat misterius dan cenderung dikaitkan dengan sesuatu yang gaib. Melalui penelitian ini diharapkan dapat mengungkap penyebab kemampuan atraksi api yang ada pada tari tradisional masyarakat Makassar sehingga masyarakat dapat melestarikan tari Pepe-pepeka Ri Makka dengan ikut menjadi penari tanpa takut terbakar.

“Penelitian ini penting karena saat ini kemampuan debus yang berkembang di masyarakat masih sangat misterius dan cenderung dikaitkan dengan sesuatu yang gaib, kami berharap dengan terungkapnya penyebab kemampuan atraksi api yang ada pada tari Pepe-pepeka Ri Makka membuat masyarakat Makassar ikut melestarikan tarian tersebut dengan ikut menjadi penari tanpa takut akan terbakar”, katanya.

Mahasiswa UNM ini juga menambahkan bahwa penelitian ini dilakukan dengan metode wawancara langsung dengan penari tarian Pepe-pepeka Ri Makka dan mengamati langsung di lapangan tarian Pepe-pepeka Ri Makka.

“Penelitian ini dilakukan dengan melakukan wawancara kepada Ketua Sanggar Seni Tradisional I Lolo Gading Paropo yang merupakan generasi ke-4 dari pencipta tari dan kelong Pepe-pepeka Ri Makka, selain itu kami juga melakukan pengamatan langsung terhadapan pertunjukkan tari Pepe-pepeka Ri Makka ini”, tuturnya.

Penelitian dengan judul “Pengaruh Kelong Pepe-Pepeka Ri Makka terhadap Kemampuan Debus pada Tari Tradisional Makassar” ini direncanakan berlangsung selama empat bulan yang dimulai Maret hingga Juni 2019. Penelitian ini merupakan kegiatan hibah Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Sosial Humaniora (PKM-PSH) tahun 2019 yang diselenggarakan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti)

 

Editor : Darma

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close