Opini

Mundurnya Sikap Nasionalisme Menjadi Ancaman Demokrasi Indonesia

COMPAKSULAWESI.COM – OPINI — Keragaman adalah ciri yang tidak terbantahkan yang dimiliki oleh Indonesia. Bukan saja pulau dan penduduknya yang banyak, Indonesia juga terbilang sebagai negara dengan jumlah latar belakang budaya, bahasa, ras, suku, dan agama yang beragam sehingga berperangaruh pada tindakan dan sikap seseorang/kelompok terhadap orang/kelompok lainnya. Sehingga hal seperti ini sangat rentang memicu terjadinya konflik.

Dari dulu sampai dengan hari ini, konflik sudah menjadi permasalahan yang lumrah di beberapa negara yang masyarakatnya multikultural. Bahkan konflik mungkin tidak salah jika disebut sebagai bagian dari kehidupan masyarakat atau manusia secara umumnya.

Di Indonesia sendiri jauh sebelum perang kemerdekaan 1950, konflik antar etnis acap kali terjadi sejak Indonesia memeperoleh kedamaian dan ketentraman. Adanya konflik etnis disebabkan oleh hubungan sosial yang intensif antar kelompok etnis yang berbeda namun hidup bersama di Indonesia merdeka. Singkatnya Indonesia yang terdiri dari banyak kelompok, disatukan dalam satu indentitas tunggal.

Tercatat sejumlah konflik antar entis yang serius dan merugikan bangsa Indonesia, diantaranya: (1) Suku Melayu berhadapan dengan suku Madura di Sambas, Kalimantan Barat tahun 1996-1997; (2) Suku Dayak melawan Suku Madura pendatang di Sambas, Kalimantan Barat tahun 1999; (3) Suku Dayak melawan suku Madura pendatang di Kalimantan Tengah tahun 2001; (4) Penganut agama Kristen Timor Timur melawan BBM (Buton, Bugis, Makassar) Pendatang di kota-kota Kupang dan Soe (Bagian Barat Timor Timur tahun 1999, yang pada akhirnya konflik ini berakhir dengan konflik antar agama; (5) Kristen Ambon melawan BBM di Ambon tahun 1999, konflik ini juga berakhir dengan konflik antar agama; (6) Konflik di antara berbagai kelompok etnis di Maluku Utara tahun 2000, juga berakhir dengan konflik antar agama; (7) Konflik di antara berbagai kelompok etnis di Poso Sulawesi Tengah tahun 2001.

Dari sejumlah kasus atau konflik antar etnis yang telah disebutkan di atas, kita dapat melihat bahwa negara Indonesia menjadi semakin rapuh, hal ini merupakan bukti dari fakta yang menunjukkan bahwa perbedaan etnis sering menyebabkan terjadinya kerusuhan massal di negara kita ini.

Pada umumnya konflik diakibatkan oleh perbedaan pendapat, pemikiran, ucapan dan perbuatan. Terkait dengan proporsi konflik sosial, Simmel (seorang filsuf asal jerman, pionir yang menjadikan sosiologi sebagai cabang ilmu yang berdiri sendiri) menegaskan bahwa semakin tinggi derajat keterlibatan emosional pihak yang terlibat dalam suatu konflik, maka semakin kuat kecenderungannya untuk mengarah pada kekerasan, dan semakin meningkat derajat solidaritas internal dalam masing-masing kelompok. Simmel mengibaratkan konflik sebagai gejala-gejala penyakit yang sebenarnya malah menunjukkan terjadinya usaha dari organisme(sosial) untuk membebaskan diri dari gangguan dan kehancuran yang disebabkan oleh penyakit tersebut.

Terlepas dari hal itu, perlu kita ketahui juga bahwa pada satu sisi, etnisitas merupakan salah satu energi yang menentukan langkah-langkah, pertumbuhan pembangunan dan perusakan dunia ini. Mengapa demikian? Kembali pada sejarah masa lalu yaitu tentang bagaimana lahir dan terbentuknya bangsa Indonesia, ini dikarenakan adanya hubungan dan kerjasama yang dilakukan atar etnis yang pada saat itu sependapat untuk mendeklarasikan persatuan mereka melalui sumpah pemuda (28 Oktober 1928).

Dilihat dari bagaimana negara Indonesia terbentuk, tentunya kita akan berpikir bahwa sebenarnya kekuatan terbesar dari terbentuk dan bersatunya negara tidak terlepas dari menyatunya masyarakat Indonesia yang multikultur pada saat itu, melalui kerja sama dan saling ketergantungan antara masyarakat yang akhirnya menciptakan kerukunan antar etnis itu sendiri. Adanya tujuan yang sama sebagaimana dahulu ketika masyarakat Indonesia bahu-membahu untuk melawan penjajah demi kemerdekaan Indonesia, sehingga menjadikan konflik antar etnis pada saat itu terhindarkan, sehingga masyarakat Indonesia tetap bersatu.

Dari sejarah terbentuknya negara Indonesia tersebut, jelas sekali terlihat bahwa tidak semua perbedaan menjadi penghalang bagi pembentukan kerja sama. Namun, belakangan ini, perbedaan etnis malah menjadi faktor yang menyebabkan munculnya konflik-konflik baru. Perbedaan etnis saat ini tidak lagi dilihat dari pandangan yang positif, bahkan nilai-nilai perbedaan itu sudah dilupakan dan diremehkan, sehingga perbedaan etnis yang terjadi belakangan ini sangat mengancam persatuan Indonesia. Hal tersebut dibuktikan dengan munculnya gerakan separatisme di daerah-daerah yang merasa dirugikan dan dimarjinalakan oleh pemerintah.

Akhir-akhir ini dapat kita rasakan bahwa nasionalisme Indonesia mengalami kemunduran, setidaknya dalam kurun waktu 2 tahun terakhir, sentimen-sentimen ini menjadi lebih dasar dan determinan melawan pemerintah pusat untuk mendapatkan otonomi yang lebih luas atau bahkan memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Salah satu contoh kasus yang sekarang sedang hangat-hangatnya dibicarakan, bagaimana dominasi etnis untuk daerah Papua menjadi ancaman terhadap demokrasi dan juga menjadi ancaman terhadap keutuhan bangsa Indonesia. Papua ingin memisahkan diri dari negara Indonesia, sebab etnis Papua merasa diperlakukan tidak adil dan dipandang sebelah mata. Mereka merasa dimarjinalkan dan dirugikan sehingga kemudian mereka menyerukan pemisahan diri dari Indonesia. Pemisahan diri yang diserukan oleh kelompok separatis Papua inilah yang merupakan salah satu ciri dari dominasi etnis. Hal ini merupakan suatu fakta, bagaimana etnis dalam sejarah Indonesia sebagai identitas kelompok. Politik identitas adalah salah satu tema pokok yang tidak pernah terpisah dalam masalah kehidupan berdemokrasi di negara manapun termasuk Indonesia.

Harold R. Isaacs (seorang Jurnalis dan ilmuwan politik Amerika) dalam bukunya Pemujaan Terhadap Kelompok Etnis, menggambarkan identitas kelompok lebih sebagai sel kehidupan suatu benda dengan bentuk yang malang-melintang tidak karuan. Hal itu merupakan bentuk dari kelompok sel-sel yang membentuk identitas ego, unsur-unsur selaput yang ikut serta dengan buruan yang sukar ditangkap, yaitu kepribadian individu. Selanjutnya Harold mengatakan bahwa kita dapat belajar dari inti terdalam identitas kelompok tentang bagaimana interaksi dari individu itu, kelompoknya dan politiknya yang lebih luas pada zamannya, tepatnya lebih dari itu kita bisa belajar tentang sifat pengalaman kontemporer kita bersama.

Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa jika semangat etnis lebih mendominasi dari pada semangat keindonesiaan, maka demokrasi dan kesatuan Indonesia akan terancam. Hal itu dikarenakan demokrasi tidak akan tumbuh dan berkembang dengan sendirinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tanpa usaha yang nyata dari setiap warga negara dan juga perangkat pendukungnya yaitu budaya yang kondusif. Sebuah pemerintahan tidak akan berjalan dengan baik apabila masyarakat tidak mempunyai sikap yang positif terhadap norma-norma dasar demokrasi. Oleh karenanya masyarakat harus yakin bahwa saat ini demokrasi adalah sistem pemerintahan yang terbaik dibandingkan dengan sistem lainnya. Masyarakat yang berpandangan hidup demokratis seharusnya memiliki kesadaran akan pluralitas, hal ini sangat penting yang harus dimiliki rakyat Indonesia untuk tetap menjaga kerukunan dan kebersaman dalam persatuan NKRI.

 

 

Citizen Jurnalis: Annisa (Mahasiswi Jurusan Ilmu AlQuran dan Tafsir UIN SUKA Yogyakarta)
Editor : Darma

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button
Close
Close