Opini

[Opini] > Santri Urban: Brand Sebagai Penanda Identitas

Ummul Pertiwi Fiqri
Santriwati Pondok Pesantren Nurul Ummah Putri Kotagede Yogyakarta
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

COMPAKSULAWESI.COM — OPINI –-Fashion menjadi bagian yang tidak dapat dilepaskan dari penampilan dan gaya keseharian. Benda-benda seperti baju dan aksesoris yang dikenakan bukanlah sekedar penutup tubuh dan hiasan, lebih dari itu juga menjadi sebuah alat komunikasi untuk menyampaikan identitas pribadi. Fashion bisa menjadi etalase kecil tentang diri seseorang bagi orang lain. Gaya berpakaian atau busana merupakan sebuah bahan penilaian awal seseorang. Fashion juga menjadi cara untuk mengekspresikan diri.


Upaya-upaya manusia untuk berhias agar tampilannya lebih di pandang bukanlah hal baru. Jauh sebelum zaman modern seperti sekarang upaya ini sudah dilakukan di zaman dulu terlihat dari relive-relive yang berda di bangunan atau tembok prasejarah.
Dalam masyarakat modern, gaya hidup (lifestyle) membantu mendefinisikan sikap, nilai-nilai, kekayaan, serta posisi sosial. Erfing Goffman dalam The Presentation of Self Everyday Life (1959) mengemukakan bahwa kehidupan sosial terdiri dari penampilan teatrikal yang diritualkan, yang kemudian lebih dikenal dengan pendekatan dramaturgi (dramatugical approach). Manusia seolah-olah sedang bertindak di atas panggung. Bagi Goffman, berbagai penggunaan ruang, barang-barang, bahasa tubuh, ritual interaksi sosial untuk memfasilitasi kehidupan sosial sehari-hari.
Seorang santri sangat identik dengan sarung dan peci. Dimana sarung merupakan pakaian nasional wajib untuk santri, dalam kegiatan sehari-hari di pondok pesantren sarung merupakan pakaian yang harus dipakai. Sedangkan seorang satriwati sangat identik dengan pakaian muslim, kerudung dan baju gamis yang menutupi tubuhnya.
Namun saat ini, modernitas ikut mengubah gaya berpakaian santri. Kita banyak melihat wanita muslimah, terutama remaja banyak yang memakai jilbab bukan didasari dari perintah Allah, akan busana muslim dijadikan ajang untuk meraih popularitas dan identitas.
Pesantren sebagai mercusuar peradaban, telah banyak melahirkan tokoh-tokoh besar yang sangat berpengaruh. Para santri dituntut untuk bisa mengerti dan memahami ajaran Islam secara mendalam. Tidak hanya itu, santri juga disuguhi ilmu-ilmu sosial sebagai bekal hidup di tengah masyarakat.
Persiapan untuk menjadi agent of change, tidak cukup dengan keilmuan saja, penampilan merupakan aspek penting yang mendukung penilaian serta akan membentuk identitas tinggi rendahnya derajat kemanusiaan di tengah masyarakat. Berpenampilan modis dan agamis telah menjadi trend di dunia pesantren, bahkan untuk memilih pakaian pun dibutuhkan sebuah brand untuk membantu mengkomunikasikan jati dirinya ditengah masyarakat.
Kebanyakan orang menganggap bahwa kaum santri dalam berpakaian terkesan kuno dan tak modis, namun sekarang hal tersebut terbantahkan. Santri dengan model agamis mampu menjadi kiblat fashion bagi para masyarakat disekitar. Banyak yang mengikuti cara berpakaian ala santri tersebut.
Selain sebagai pengekspresian diri, mode juga sering digunakan untuk menunjukkan nilai dan status sosial. Kebanyakan masyarakat melihat seseorang dari apa yang tampak, salah satunya adalah pakaian. Maka dari itu santri zaman now, telah mampu mengubah cara berpakaiannya lebih trendi dan brandid. Karena dengan apa yang dipakainnya juga mampu menceriminkan kepribadian, nilai, bahkan perasaan. Produsen pun berlomba untuk membuat barang bukan sekedar fungsi semata tetapi juga bagaimana barang produksinya bisa merefleksikan kepribadian si pemakai.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close