Rilis

SAdAP: Perlu Pengkajian Khusus dan Tinjauan Terkait Penerbangan Komersial di Masa PSBB

Compaksulawesi – Makassar : Tokoh Masyarakat dan juga Pengusaha Tambang Asal Kota Makassar, Syarifuddin Daeng Punna atau yang akrab disapa SAdAP angkat bicara terkait pembatasan akses penerbangan komersial.

Ia mengamati di bandara untuk penerbangan perdana khusus salah satu maskapai penerbangan tujuan Jakarta-Kendari, mendapatkan izin beroperasi di masa PSBB.

Bahkan ia melihat aturan di bandara tidak begitu ada perubahan, semuanya standar saja, sehingga menurutnya hal ini justru akan memunculkan spekulasi bagi penumpang.

“Kenapa hanya maskapai tertentu saja yang diberikan izin sementara maskapai lainnya tidak diperkenankan beroperasi, padahal pembatasannya bukan menjadi alasan yang mesti dibenarkan,” ungkap SAdAP, melalui pers rilis, Senin 11 Mei 2020.

Saya juga menyesalkan, adanya maskapai penerbangan yang membuka penjualan tiket secara online namun belum mendapatkan izin untuk beroperasi.

“Sebut Saja Lion Air, Pihak Lion sendiri berdalih demikian tapi tetap saja mengambil keuntungan,hal ini perlu ditertibkan oleh Kemenhub, Masalah ini perlu menjadi perhatian pemerintah sebab maskapai penerbangan lainnya merasa di anak tirikan,” ujarnya.

SAdAP mengungkapkan hal ini bisa berdampak buruk terhadap kemajuan bangsa, khususnya di bidang ekonomi
Ia membayangkan bila terjadi mogok operasional maskapai penerbangan yang selama ini telah beroperasi di Indonesia maka dampaknya sangat dirasakan oleh pengguna jasa penerbangan khususnya, kepentingan bisnis yang menggenjot perputaran ekonomi suatu daerah.

“Kalau penerbangan yang sifatnya regional, tidak perlu ditutup, karena masalah ini tentunya berkaitan dengan kemaslahatan orang banyak,” ungkapnya.

Olehnya itu, menurutnya, kebijakan tersebut perlu ditinjau ulang, dengan beragam opsi diantaranya tidak menutup akses penerbangan, memperketat aturan di bandara bagi mereka yang berdatangan dari luar negeri.

“Bila diperlukan maka tim medis dapat menyediakan sarana khusus bagi mereka, seperti dibuat klinik secara terpisah dengan penumpang yang bepergian hanya di dalam negeri,” umbarnya.

Kemudian lanjut SAdAP, di tiap bandara selain protap kesehatan juga dibuatkan aturan secara berkala, bagi yang baru saja tiba dari luar negeri di wajibkan untuk mandi sebelum dilakukan pemeriksaan kesehatan.

“Prosedur seperti ini dikhususkan bagi bandara dan kepada maskapai penerbangan bisa melakukan kontrol terhadap kebijakan internalnya, diantaranya jaminan kesehatan baik penumpang maupun kepada tim medis yang standby di bandara.

Caranya saya pikir sangat mudah yaitu tiap maskapai menaikkan harga tiketnya, dan dari harga tiket tersebut pajak 10 persennya diperuntukan bagi jaminan kesehatan penumpang, serta donasi kepada tim medis untuk keperluan teknisnya sehingga tidak membebani anggaran pemerintah khususnya di bidang kesehatan,” terang SAdAP.

Selain itu, pemerintah diharapkan dapat mengakomodir hal-hal yang bersinggungan dengan kehidupan sosial-ekonomi. Tidak perlu ada yang dibeda-bedakan dalam menerapkan aturan sehingga tidak berat sebelah.(rls/compak)

Editor : Muh.Rizki

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close