Serba Serbi

22 Tahun Reformasi (12 – Mei 1998 – 12 Mei 2020), Krisis Ekonomi-Politik Hingga Kejatuhan Rezim Orde Baru.

Compaksulawesi – Indonesia dihantam badai krisis ekonomi dan politik yang tidak biasa pada Mei 1998 silam. Demonstrasi mahasiswa, kerusuhan, hingga penjarahan di sejumlah daerah, khususnya DKI Jakarta terjadi hingga berujung pada keruntuhan rezim otoritarian Soeharto yang bercokol kurang lebih 32 tahun.

Krisis ekonomi mengamuk di Asia sejak 1996. Rupiah ambruk. Pada Maret 1997, nilai mata uang Rupiah menukik tajam dari Rp2.600 menjadi Rp16 ribu per dolar AS. Padahal, sepanjang 1990-1996, nilai tukar Rupiah berada di angka Rp1.901-Rp2.383 per dolar AS.

Ratusan perusahaan bangkrut dan harus memutus hubungan kerja pegawai-pegawainya. Harga-harga kebutuhan pokok pun meroket dengan cepat.

Di sisi yang lain, praktik pemerintahan yang dinilai sarat dengan praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) membuat pemerintah kehilangan legitimasi. Mahasiswa lantas menggelar demonstrasi.

Demonstrasi mahasiswa mengkritik kesewenang-wenangan Rezim Orde Baru sebenarnya sudah terjadi beberapa tahun sebelum 1998. Namun, ketika krisis ekonomi melanda kian parah, jumlah elemen mahasiswa yang turun ke jalan semakin besar.

Pada 12 Mei, mahasiswa dari berbagai kampus berkumpul di Universitas Trisakti, Jakarta. Jumlahnya tak kurang dari 6 ribu orang.

Kritik terhadap pemerintah diucapkan dengan lantang. Mereka pun menyanyikan lagu-lagu perjuangan.

Pukul 12.30 WIB, ribuan mahasiswa berencana berjalan kaki dari kampus Universitas Trisakti ke Gedung DPR/MPR. Demonstrasi ingin dipusatkan di sana. Namun, aparat tidak memperkenankan.

Mahasiswa, yang sudah kepalang berada di jalan, tak mau kembali masuk ke kampus. Mereka bertahan. Ratusan dari mereka, sebagian di antaranya membawa bunga, berhadap-hadapan langsung dengan barisan aparat yang menghadang.

Kurang lebih pada pukul 17.20 WIB, aparat meminta dengan tegas agar mahasiswa kembali masuk ke lingkungan kampus. Tidak boleh lagi ada yang di jalan.

Gas air mata ditembakkan. Aparat bergerak ke arah barisan mahasiswa dan memaksa mereka masuk ke dalam kampus. Para mahasiswa lari tunggang langgang.

Ada yang bersembunyi di kios. Tak sedikit yang berlari masuk ke dalam kampus Universitas Trisakti menghindari kebuasan aparat yang sudah tak segan memukul demi membubarkan kerumunan. Suara tembakan menyalak berulang kali. Suasana kacau.

Hingga kemudian, pada 18.00 WIB, peluru aparat menggugurkan empat mahasiswa. Mereka adalah Hafidin, Roiyan, Hery Hartanto, Hendriawan, dan Elang Mulya Lesmana.

Kematian empat mahasiswa tersebut membuat gelombang kritik terhadap pemerintah semakin membesar. Berangsur-angsur, mahasiswa dari berbagai kampus turut datang ke Jakarta. Tujuan mereka sama: menamatkan riwayat Orde Baru.

13 – 21 Mei


Pagi hari, ribuan mahasiswa memberi peringatan terakhir kepada rekannya yang tewas tertembak. Mahasiswa yang bergabung dalam gerakan semakin besar jumlahnya. Ribuan dari mereka berkumpul di kampus Universitas Trisakti.

Pada hari itu, bukan hanya gelagat ribuan mahasiswa yang menjadi sorotan, tetapi juga kerusuhan di sejumlah lokasi. Wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Pusat sudah terlihat asap membumbung akibat perusakan dan pembakaran gedung pertokoan.

Tak sedikit masyarakat yang kena PHK akibat krisis ekonomi. Kebutuhan pokok pun sulit diperoleh. Rakyat yang lapar menjadi mudah tersulut emosi, hingga melampiaskannya dengan menjarah sejumlah pertokoan.

Bermula di kawasan Cengkareng dan Glodok. Bagai virus, dengan cepat di hari yang sama, hampir seluruh pertokoan di Jakarta Pusat dan Jakarta Barat dijarah dan dibakar oleh massa. Hingga malam hari api masih terlihat menyala di sejumlah gedung pertokoan.

Petugas kepolisian yang berusaha menghentikan penjarahan tidak berdaya menghadapi massa yang kalap. Pos polisi di sejumlah titik dibakar.

Pada 14 Mei 1998, kawasan pertokoan Mangga Dua menjadi korban selanjutnya.Massa sudah mengerubungi kawasan tersebut demi mendapat barang-barang yang berharga sejak pagi. Dari Mangga Dua, massa lalu menyerbu wilayah Jakarta Tua.

Di wilayah Jakarta Selatan mulai meletup kerusuhan, tepatnya di daerah Pasar Minggu. Titik kerusuhan lalu menyebar ke daerah Kebayoran Baru, Kebayoran Lama, dan Cipete dengan sangat cepat.

Di Jakarta Timur pun kerusuhan sudah terjadi. Penjarahan dan pertokoan menjadi pemandangan lazim di sana. Paling parah terjadi Di Yogya Plaza Klender Jakarta Timur, dimana 488 orang mati dalam kerusuhan. Penjarahan terus terjadi hingga 15 Mei.

Berdasarkan catatan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), lebih dari 1.200 orang mati terbakar di dalam pertokoan saat melakukan penjarahan. TGPF menyatakan bahwa kala itu ada sekelompok orang berbadan tegap memprovokasi masyarakat untuk menjarah, namun mereka membakar toko dari luar sehingga banyak yang terjebak di dalam.

TGPF juga mencatat sedikitnya 4.240 pertokoan menjadi sasaran penjarahan, 404 kantor pemerintah dan swasta, 257 kantor bank, 1.026 rumah penduduk, serta 1.948 kendaraan hancur dan dicuri. Angka itu belum termasuk korban pemerkosaan dan kasus penjarahan di luar Jakarta.

Sementara itu, gelombang mahasiswa yang menuntut Presiden Soeharto turun dari tampuk pemerintahan semakin besar. Pun semakin lantang. Mereka sudah tidak lagi menyuarakan tuntutan di dalam kampus, tetapi sudah terfokus di Gedung DPR/MPR. Kala itu, MPR masih menjadi lembaga tertinggi negara, yakni pemberi mandat kepada presiden.

Hingga pada tanggal 18 Mei 1998, demonstran berhasil menduduki gedung DPR/MPR. Kemudian pada tanggal 21 Mei, Soeharto menyatakan berhenti sebagai presiden. Pidatonya disiarkan langsung oleh televisi dan disambut gegap gempita oleh mahasiswa.

Editor : Muh. Rizki

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close