BeritaGowa

SAdAP Geram Mendengar Banyaknya Aksi Penebangan Hutan Di Dusun Langkowa, Tombolo Pao Kab.Gowa

Compaksulawesi – Makassar : Beredar kabar di media media online terkait maraknya pembalakan liar di desa tombolo pao,mengundang reaksi dari beberapa tokoh masyarakat asal daerah tersebut.

bagaimana tidak dengan maraknya pembalakan liar keasrian dan kesejukan daerah tombolo tersebut terancam hilang bahkan saat ini wilayah tersebut terancam kekeringan akibat ulah para oknum yang tidak bertanggung jawab itu.

Salah satunya datang dari Syarifuddin Daeng Punna (SAdAP) putra asli daerah dataran tinggi Kabupaten Gowa, Tombolo Pao Ballassuka, daerah yang menjadi wilayah segitiga emas antara Kabupaten Gowa,Bone dan Sinjai.

ia merasa geram saat mendengar maraknya perambahan secara liar di kawasan hutan lindung di Tombolo pao, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Tampak Hutan Lindung yang sudah gundul akibat penebangan liar dan pembakaran lahan hutan di wilayah Tombolo Pao,Kabupaten Gowa.

“Saya sangat kecewa. Hutan hutan di sana begitu indah, tapi mengapa orang tega merusak keindahan alam di sana,” ujar SAdAP yang juga merupakan salah satu turunan dari Puanta Riballassuka ketika dihubungi awak media, Senin (18/05).

SAdAP mengatakan bahwa masyarakat setempat harus kompak untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan hutan. Karena hutan adalah penyangga kehidupan yang mampu memberikan manfaat besar bagi kehidupan manusia.

SAdAP berpesan agar hutan harus dilindungi sehingga dapat dirasakan manfaatnya secara berkesinambungan.

Tombolo Pao terletak di areal Gunung Bawakaraeng., Sejak dahulu daerah ini dikenal sebagai salah satu penghasil sayur mayur.

Sayuran Tombolo Pao menjadi sumber suplai untuk wilayah Makassar dan Gowa. Tak hanya itu, tanah “surga” ini juga menyimpan hasil hutan yang tak ternilai.

Namun perlahan tapi pasti, hasil alam yang melimpah itu kian tergerus. Tompolo Pao, daerah dingin dan damai itu kini terancam kekeringan abadi.

Pasalnya sumber mata airnya yang berada di Dusun Langkowa Desa Tonasa tidak lagi setia mengalirkan airnya. Kapasitas air dari sumber mata air yang menjadi kebutuhan utama seluruh warga Kecamatan Tombolo Pao yang biasanya mengeluarkan kapasitas air berskala besar kini sudah berkurang dan tidak seperti dulu lagi.

“Maraknya pembalakan atau penebangan liar dapat memberikan dampak negatif. saya harap kepada siapa pun agar tidak ada lagi yang melakukan perambahan hutan, sehingga kelestariannya dapat selalu terjaga,” tegas SAdAP.

Kecamatan Tombolopao merupakan salah satu kawasan yang sering didatangi wisatawan karena panorama alam dan cuacanya yang cukup sejuk.

Di sana ada mata air yang terletak di Dusun Langkowa, diketahui mata air ini pulalah yang mengaliri sungai Tangka. Salah satu sungai yang menyuplai air masuk di kawasan Bendungan Bilibili.

“Pemerintah Daerah melalui unsur Desa harus membuat perencanaan yang baik dan benar serta harus mensosialisasikan kemasyarakat akan dampaknya apabila kita tidak saling mencegah pembalakan liar, bukaan wilayah hijau yang saat ini dijadikan area pemukiman kelihatan tidak tertata dengan baik, mungkin karena adanya fungsi kontrol petugas kehutanan yang hilang”ucap SAdAP dalam pessan Whatsappnya,Senin (18/05).

“Peran BUPATI Sebagai pengendali Pemerintahan Daerah ini sangat penting dalam menjaga kelestarian alam diwilayah dataran tinggi tidak hanya itu Pemerintah juga harus mengajak serta seluruh LSM atau Komunitas Masyarakat yang bergerak di lingkungan hidup harus di perdayakan guna dapat menjaga dan melestarikan alam di sana agar terhindar bahaya longsor dan kekeringan akibat banyaknya penebangan hutan secara liar,Saya yakin adinda Bupati Gowa, Adnan IYL mampu mengatasi masalah ini ” Tutup SAdAP.

Setali tiga uang Muhammad Yunus Palele yang juga salah satu Tokoh masyarakat Kecamatan Tombolo Pao kepada media melalui keterangan tertulisnya, membenarkan keadaan itu. Ia menyampaikan saat ini seluruh warga terancam kekeringan abadi.

Sumber mata air di Dusun Langkowa kapasitasnya kian mengecil. Banyak desa-desa di sekitarnya mulai merasakan suplai air yang tak lagi seperti dulu.

“Hutan hijau lestari yang banyak ditumbuhi pohon pinus dalam kurun waktu dua tahun ini yang berdiri kokoh di area hutan lindung nyaris habis. Akibatnya guliran air dari kaki gunung Bawakaraeng makin berkurang,” urainya.

Sumber mata air tersebut yang kemudian memasuki sungai Tangka. Selain sebagai sumber utama kebutuhan vital warga kecamatan Tombolo Pao juga air yang mengalir di sungai Tangka yang masuk ke area Bendungan Bili Bili.

Ungkapan para tokoh masyarakat di atas dibenarkan Kepala Dusun Langkowa. Menurutnya stok air bersih dari alam kian mengecil.

Area sumber mata air di kawasan hutan lindung marak ditebang. Ia mengatakan hutan lindung Gowa kian menipis akibat pembalakan.

“Petugas kehutanan tidak pernah hadir di lokasi apalagi mau memproses para pelaku pembalakan hutan lindung. Kaami aparat pemerintahan di tingkat bawah juga menjerit atas apa yang terjadi di depan mata,” keluhnya.

Dari informasi yang dihimpun diketahui, seluruh kawasan hutan lindung di Gowa yang masih tersebar di beberapa kecamatan mengalami penyusutan luas dan areanya. Pembalakan yang dilakukan sejumlah pihak marak terjadi.

Selain di Tombolo Pao, pembalakan hutan Lindung juga marak terjadi di Tinggi Moncong, Parigi, Botolempangan dan kecamatan lain.(Riz)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close