Berita

KLPT Gelar Galang Dana untuk Warga Desa Tappale yang Kurang Mampu

Compaksulawesi.com – Bone – Komunitas Literasi Perempuan Tappale (KLPT) menyalurkan bantuan paket sembako kepada warga desa Tappale yang kurang mampu bertepatan dengan anniversary satu bulan KLPT, Selasa, (19/05) kemarin. Penyaluran paket sembako ini dilakukan atas dasar kemanusiaan.

 

Komunitas yang beranggotakan perempuan ini lahir di tengah covid-19. Mengapa tidak mereka memanfaatkan waktu tersebut untuk menebar kebaikan, berbagi ilmu serta kegiatan kegiatan yang bersifat positif. Berawal dari group whatsapp hingga bertatap muka dan menjalin keakraban satu sama lain.
ketua KLPT, Andi Batari Hadman, mengatakan, komunitas ini berawal dari inisiatif pribadi agar bisa saling memotivasi satu sama lain dengan cara mengubah mindset pemuda khususnya perempuan, menggalih kekreatifitasan yang mereka punya. Karena antusiasme para perempuan muda di Desa .Tappale, akhirnya dilahirkanlah sebuah komunitas dengan visi “Menjadi Perempuan yang berkarakter, inovatif, kreatif, serta inspiratif”.

Tak banyak yang berpikir positif awal terbentuknya komunitas ini, hingga pada akhirnya ada pihak yang mengatakan group ini terlalu angkuh karena hanya berisikan perempuan saja.

“Sengaja tidak kami ikutkan pemuda desa dikarenakan sesuatu dan lain hal. Kami rasa tidak ada yang salah walaupun kami hanya perempuan. Adanya beberapa kegiatan yang kami lakukan membuktikan bahwa perempuan bisa tonji. Saya juga melihat di Desa Tappale ini kurang perhatian dengan pengembangan pemuda(i) serta tidak ada program membangun khusus untuk anak muda” Kata ketua KLPT, saat ditemui di basecamp KLPT.

Terbukti selama sebulan kegiatan yang dilakukan oleh KLPT sangat bermanfaat, bukan hanya nongkrong tidak jelas, wara wiri, dan menceritakan aib sesama saja. Lahirnya KLPT diawali dengan perkenalan, berbagi ilmu dengan menghadirkan pemateri dengan pertemuan dua kali dalam satu minggu dengan materi yang membangun sesuai dengan tujuan komunitas tersebut. Bakti Sosial (Baksos) merupakan satu dari beberapa kegiatan positif yang mereka lakukan selama bulan ramadhan.

” Dibulan ramadhan, kami fokus mengumpulkan dana untuk paket sembako yang akan kami bagikan kepada warga desa kurang mampu di Desa Tappale dan juga yasinan di malam jumat serta shalat tarwih berjamaah” Ketua KLPT melanjutkan.
Transparansi sumber dana kegiatan baksos di ungkapkan oleh sekretaris yang merangkap sebagai bendahara KLPT, Sofyana Musni.
Fya, sapaannya mengatakan tidak ada sumber dana yang berasal dari warga maupun pemerintah desa melainkan hasil galang dana dan open donasi yang disebar ke sosial media (sosmed).

“Awalnya kami berniat meminta izin untuk meminta dana seikhlasnya ke warga. Tapi tak diindahkan oleh pemerintah desa, alhasil kami tidak turun meminta sumbangan warga. Warga hanya membeli takjil (pappabuka) yang kami jual. Sifatnya delivery order jadi bukan hanya warga desa Tappale saja yang beli, namun diluar desa bahkan diluar kecamatan. Jadi, dana yang masuk murni dari hasil jualan pappabuka dan dari open donasi yang kami sebar di sosmed. Alhamdulillah banyak yang mendukung diluar sana” Ungkapnya.

Warga penerima paket sembako dari KLPT merupakan warga yang masuk kategori penerima layak seperti janda tua, anak yatim piatu, penghasilan tidak sebanding dengan kebutuhan dan beban hidup, lansia, rumah tidak layak huni dan beberapa kategori lainnya.

Sekitar 55 paket sembako disalurkan dari semua sudut, dusun ke dusun di Desa Tappale ini. Semua teman KLPT ikut serta membagikan paket sembako yang merupakan hasil perjuangan mereka selama beberapa pekan terakhir. Rasa haru serta bangga terlihat dari raut wajah mereka.

“Mereka sangat bahagia, bahkan tak sedikit yang berkaca-kaca membuktikan rasa haru mereka ketika diberikan sedikit bantuan dari kami” Kata salah satu teman KLPT yang turut turun dijalan membagikan paket sembako.
Team penyaluran KLPT menegaskan bahwa paket sembako ini murni dari kami KLPT bukan dari pemerintah dan bukan bantuan pemerintah.

“Kami beri hastag #bukan_bantuan_pemerintah agar tidak ada kesalah pahaman dengan warga. Dan untuk mempromosikan bahwa ada satu perkumpulan perempuan muda yang akan selalu ada untuk Desa Tappale,dan bukan komunitas yang lahir dari pemerintah Desa Tappale” Tutupnya.

Citizen reporter : Fya Musni

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close