PendidikanREDAKSI

Syarifuddin Daeng Punna : Pendidikan di Masa Pandemi, Tenaga Pendidik Dan Orang Tua Siswa Dituntut Kreatif dan Inovatif di Tahun Ajaran Baru.

Compaksulawesi – Jakarta : Kesiapan lembaga pendidikan menghadapi keharusan digitalisasi akibat pandemi COVID-19 cukup mengkhawatirkan. Mau tak mau, itu semua harus bisa dilalui.

Tahun ajaran baru 2020/2021 akan segera dimulai. Pandemi Covid-19 tak kunjung hilang, itu artinya proses pembelajaran secara tatap muka juga belum kembali diberlakukan.

Ilustrasi : Ratusan Siswa Baru Sedang Mengikuti Masa Orientasi Siswa.

Tokoh Masyarakat Makassar, Syarifuddin Daeng Punna, mengatakan selama masa pandemi Covid-19, sebaiknya orang tua menjadi pendidik moral dan agama di rumah.

Pria yang akrab disapa SAdAP ini bahkan menilai bahwa metode belajar dengan sistem daring saat ini tidak efektif dalam membangun sumberdaya manusia anak didik khususnya pada bidang moral dan agama.

“Olehnya itu peran orang tua sangat di harapkan untuk mengarahkan anak di rumah, agar perubahan psikis mereka tetap pada rel-rel yang sesuai dengan norma yang berlaku,” ujarnya, Kamis (23/7).

Syarifuddin Daeng Punna Saat Memberikan Keterangan Kepada Awak Media. Kamis (23/07/2020).

Ia melanjutkan bahwa kita mesti berkaca pada kondisi bangsa hari ini, sistem belajar online justru menciptakan banyak masalah.

“Salah satunya anak-anak kita yang masih duduk di bangku SD diarahkan pada sistem teknologi virtual yang dimana dasar-dasar penggunaan aplikasi teknologi dapat berdampak luas pada pribadi anak dan lebih parahnya lagi kondisi seperti ini justru memunculkan beragam spekulasi dan ketakutan akan perubahan karakter generasi bangsa ini,” ungkap SaDaP.

Anak-anak peserta didik yang tidak mampu secara ekonomi tentu akan menemukan kesulitan mengikuti cara belajar online.

“Banyak warga yang kurang mengeluhkan sistem pendidikan secara online ini, karena mereka tidak memiliki perangkat online berupa laptop atau Handphone berapplikasi android, tentunya hal ini menjadi beban bagi orang tua siswa, apalagi biaya pembelian kuota internet dan lain lain sangat sungguh membebani,” jelas SaDaP.

orang tua yang sibuk dengan urusan-urusan kantor, maka sulit melakukan kontrol terhadap aktifitas belajar anakny, olehnya itu para guru mesti mencari variabel atau metode selain belajar daring yang hemat banyak orang tua wali tidak begitu efektif membentuk karakter anaknya dengan sistem pendidikan on line.

salah satu cara untuk mengakomodir saran dari para orang tua murid bisa dilakukan model belajar mengajar secara tatap muka menggunakan shift.

“Misalnya jumlah siswa dalam satu ruangan kelas ada 40 orang, maka bisa dibagi dalam tiga shift dengan durasi dua jam per shift dengan aturan protokol kesehatan, menjaga kebersihan diri, artinya sistem seperti ini bisa dilakukan tergantung dari kesepakatan sekolah dengan komite sekolah yang di dalamnya bergabung wali siswa. Ya dengan cara demikian saya rasa beban orang tua jadi berkurang,” ujarnya lagi.

Ditambah lagi kata dia, pengamanan sekolah mendapatkan tugas baru mengawasi serta menjaga siswa secara ketat

Dia juga menjelaskan, dengan sistem belajar online metode penilaiannya juga tidak mengacu pada perkembangan kognitif, afektif dan psikomotorik anak yang seharusnya mengalami perubahan melalui metode pembelajaran secara langsung di Sekolah.

“Sebagai solusi, di sinilah peran orang tua menjadi sangat penting untuk memberikan pendidikan moral dan agama selama masa belajar online di masa pandemi ini berlangsung. Orang tua menjadi bagian garda terdepan bagi terbentuknya karakter anak yang terpaksa harus belajar dari rumah,” tutup SAdAP.

Laporan : Eki

Editor : Muh.Rizki

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close