BeritaPangkepPILKADA

Politik Dinasti di Pilkada Pangkep 2020, Achri Arief : Seperti Zaman Kerajaan

Compaksulawesi – Pangkep : Perhelatan Pilkada Kabupaten Pangkep 2020 dianggap menghadirkan kontestasi dari politik dinasti lantaran diikuti sejumlah calon yang berasal dari keluarga elite partai atau pejabat negara.

Tokoh Pemuda Kabupaten Pangkep,Muhammad Achri Arief mengatakan sebenarnya politik dinasti bukan merupakan hal baru yang terjadi dalam kontestasi politik Indonesia.

Achri menjelaskan langgengnya politik dinasti, lantaran adanya keinginan melanggengkan kekuasaan untuk kepentingan pribadi atau keluarga. Padahal, kata dia, hadirnya politik dinasti merusak kesempatan bagi orang lain untuk maju sebagai calon kepala daerah.

“Masalahnya (politik dinasti) pertama, dia punya nafsu melanggengkan diri. Kedua bertujuan untuk kepentingan pribadi keluarga atau diri dia sendiri. Ketiga merusak sistem meritokrasi dan bisa merusak kesempatan orang maju,” kata Achrie melalu telepon selulernya, Rabu (12/08).

“Saya artikan politik sebagai upaya common good kebaikan untuk bersama. Tapi dinasti merusak common good,” imbuh dia.

Achri menuturkan penyebab dinasti politik tak pernah hilang dalam politik Indonesia lantaran psikologi kerajaan dan kesultanan yang masih melekat dalam politik Indonesia. Sehingga, selalu berujung terhadap personalisasi tokoh tertentu.

“Dinasti politik bukan fenomena baru. Penyebab kenapa Indonesia masih ada politik dinasti nilai feodal masih kuat. Kedua sisa psikologis kerajaan kesultanan masih ada dan berujung pada personalisasi tokoh,” ujarnya.

Selain itu, demokrasi elektoral bedasarkan popularitas seorang tokoh masih menjadi strategi primadona partai politik dalam mengusung pasangan calon.

“Kenapa dinasti politik tumbuh subur, saya lihat ada beberapa hal, suka tidak suka demokrasi elektoral dengan pemilu langsung jadi penyebab menyandarkan popularitas dan politik uang,” sebutnya.

Lebih lanjut, Achri menuturkan politik dinasti dapat diselesaikan dengan perbaikan regulasi dalam parpol. Namun, kata dia, hal itu dianggap sulit dilakukan karena representasi formal yang sudah terlanjur buruk.

“Permasalahan dinasti bisa diselesaikan dengan perbaikan regulasi atau lewat parpol. Tapi menurut saya tidak cukup kalau kita gantungkan semata pada perbaikan parpol. Representasi formal sudah busuk. Contoh bukti kegagalan representasi formal yang ada di Kabupaten Pangkep adalah maraknya issu pasangan Andi Ilham Zainuddin berpasangan dengan Istri Bupati Syamsuddin Hamid, Rismayani yang tidak lain mereka adalah keluarga dekat, ditambah dengan majunya Muh.Yusran yang posisinya masih sebagai keponakan dalam keluarga yang dikenal dengan istilah klan Batara itu, merujuk pada persoalan ini entah memang ada pembiaran atau ada unsur pemanfaatan personal untuk kepentingan kekuasaan,” tuturnya.

“Sayangnya representasi formal sulit diubah karena sudah dijaga buzzer di medsos dan sebagainya. Ada polisi di sini UU ITE itu ada. Mesti ada upaya tandingan terhadap representasi formal yang membusuk,” tandas Achri.

Diketahui sampai berita ini di turunkan ada empat pasangan bakal calon yang akan maju di pemilihan kepala daerah kabupaten pangkep, mereka adalah :
1.Rahman Assegaf – Muammar Muhayang (RAMAH),
2. Muh Yusran Lologau – Syahban Sammana
3. Andi Ilham Zainuddin – Rismayani
4. Anir – Lutfi.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close