News

Banyak Siswa Frustasi Karena Penerapan Sistem Belajar Online, SAdAP Ingatkan Kepala Daerah Segera Inisiatif Buatkan Regulasi Tersendiri

Compaksulsel.com – Jakarta : Pandemi covid 19 yang kian runyam melahirkan banyak masalah baru, salah satunya terkait dunia pendidikan yang ikut menjadi persoalan krusial, dimana model sistem pembelajaran dilakukan secara online.

Hal ini mendapat beragam tanggapan dari masyarakat yang sudah mulai jenuh dengan terapan yang dibuat oleh menteri pendidikan Nadiem Makarim.

Kejenuhan yang muncul tentu berdampak negatif, apalagi sistem online diberlakukan secara menyeluruh disemua tingkatan dari SD hingga mahasiswa.

Khusus murid SD, tentu secara psikis akan terganggu bila terus menerus belajar dengan sistem online, padahal dimasa SD para siswa difokuskan pada kebutuhan Psikomotorik, kognitif dan afektif yang harus terpenuhi melalui belajar secara tatap muka.

Terkait masalah tersebut, Syarifuddin Daeng Punna tokoh masyarakat dan pengusaha asal Sulsel yang sering disapa SAdAP ini mengemukakan pendapatnya terkait lambannya respon menteri pendidikan dalam melihat realitas belajar mengajar dengan penerapan sistem online dimana sudah banyak siswa bahkan orang tua siswa yang frustasi akibat dampak yang ditimbulkan oleh sistem belajar online.

“Saya geram ketika mendapat informasi di kampung halaman saya ada seorang siswa yang frustasi karena tidak sanggup lagi mengikuti belajar online dan pada akhirnya mengakhiri hidupnya, bagaimana tidak mereka ini dari kalangan keluarga yang tidak berada,jangankan mau belajar online hp saja mereka tidak punya,sunggu sangat memiriskan”, terang SAdAP melalui keterangan pesan WhatsAppnya, Senin (19/10/2020).

Melanjutkan keterangannya SAdAP juga menyampaikan bahwa sebelumnya nenek dan ayah dari siswa tersebut bahkan pernah rela mencuri hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kebutuhan sekolah anaknya.

SAdAP sangat menyesalkan respon menteri pendidikan Nadiem yang tidak progressif dalam menata ulang sistem pendidikan dimasa pandemi.

“padahal berulang kali saya sarankan dimedia agar pola belajar mengajar kembali diterapkan dengan cara tatap muka namun dengan catatan menggunakan sistem shift hingga sore hari, atau dengan durasi 2 jam per kelas dengan dibagi jumlah siswa sesuai protap covid 19, tapi kok seorang menteri tidak mampu melakukan hal itu, apa susahnya kebijakan itu dikeluarkan”, tukas SAdAP.

“Kalau kemudian pihak kementerian tidak respect, sebaiknya menterinya mengundurkan diri saja, karena tidak mampu membuat terobosan di masa sekarang ini”, Tegasnya.

Ia juga menyarankan agar kepala daerah berinisiatif untuk membuat regulasi yang mengatur tentang sistem pendidikan tatap muka bisa diterapkan kembali demi memenuhi berbagai saran dari masyarakat, dengan mengedepankan monitoring secara berkala melalui pengawasan secara ketat di sekolah.(eq)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close