Rilis

SAdAP Kecam Keras Pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron Terkait Narasi Dan Karikatur Nabi Muhammad SAW.

Compaksulsel.com – Jakarta : Syarifuddin Daeng Punna tokoh Adat dari sulsel ikut mengecam pernyataan presiden prancis Emmanuel Macron yang akan terus melanjutkan proyek Charlie Hebdo terkait penghinaan Nabi Muhammad SAW melalui narasi dan karikaturnya.

Menurutnya Presiden Prancis telah melakukan kesalahan cukup fatal dengan mengumbar pernyataan yang melukai hati umat islam di dunia.

bahkan dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh emmanuel langsung menimbulkan banyak reaksi bukan hanya dari kalangan kaum umat islam. Lintas umat beragama pun melakukan hal yang sama dengan mengecam presiden prancis dan dianggap telah mengacaukan stabilitas keamanan dunia apalagi di masa pandemi covid yang belum mereda sampai saat ini.

SAdAP pun menjelaskan tentang filosofi Seorang pemimpin yang memelihara kebencian dalam hatinya terhadap satu kelompok masyarakat atau agama maka pemimpin tersebut bukanlah pemimpin yang baik, karena hanya iblis saja yang sering mengumbar kebencian dan menciptakan kegaduhan dengan mengadu domba sesama umat beragama.

“Pernyataan itu sangat rentan menciptakan konflik dan kebencian, olehnya itu saya mengecam dan meminta kepada pemerintah indonesia untuk menarik dubes yang ada disana, termasuk melakukan evaluasi terhadap kerjasama bilateral yang sudah terbangun selama ini dengan prancis”, urai SAdAP.

Lanjutnya, permasalahan ini bisa berdampak luas terhadap kehidupan beragama di indonesia bila pemerintah tidak segera melakukan langkah taktis dengan memutus hubungan kerjasama sementara waktu termasuk menghentikan eksport import barang yang ada kaitannya dengan prancis untuk meredakan gejolak yang mulai bermunculan.

“saya juga berharap kepada semua tokoh lintas agama untuk mengecam presiden prancis emmanuel macron yang menunjukkan sikap pemimpin yang tidak menghargai perbedaan. Kepada seluruh ummat islam di indonesia agar jangan terpancing berlebihan, hingga dapat merusak keharmonisan antar umat beragama yang telah lama terbangun dalam bingkai bhinneka tunggal ika, sebab kebebasan memilih keyakinan diatur dalam UUD 1945 dan tidak ada paksaan maka jalankan ibadah menurut keyakinan masing masing tanpa saling mengganggu, lakum dinukum waliyadin, sebab Allah menyayangi hambanya yang berbuat baik dan menyayangi sesama manusia”, tutup SAdAP.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close