Politik

Appi : Calon Sekertaris Golkar Makassar Harus Fokus Dan Tidak Niat Maccaleg Nantinya

Compaksulsel.com – Makassar : 

Era Baru Golkar Makassar kini berada di bawah kendali Munafri Arifuddin (Appi). Kepengurusan impian alias “dream team” tengah dibangun. Jabatan sentral seperti sekretaris, bendahara, dan ketua harian tentu tak asal tunjuk.

Ketua Golkar Makassar, Munafri Arifuddin mengaku tengah menyusun kepengurusan DPD II Golkar Makassar sebagai tugas pertama pasca ditetapkan sebagai ketua. “Jabatan strategis seperti sekretaris dan ketua harian masih dipertimbangkan,” ujar Appi, Selasa (23/3/2021).

Menurut Appi, untuk posisi sekretaris memang sangat penting dalam sebuah organisasi, karena itu ia tampak cukup dilema terkait siapa yang akan ditunjuk. “Kita akan lihat kedepan, saya masih butuh waktu untuk menentukan karena ini jabatan vital,” kata Appi.

Lanjut Appi, sejauh ini sudah ada tiga nama yang dibidiknya untuk menempati posisi sekertaris, hanya saja ia belum enggan menyebutkan. Meski belum mau menyebutkan nama, namun tiga nama santer dikabarkan tepat untuk mengisi posisi sekretaris DPD II Golkar Makassar.

“Ada tiga yang saya timbang-timbang. Saya membuat kriteria, tidak boleh ada keinginan mencaleg (maju legilatif) kalau jadi sekretaris. Biar bisa fokus,” tegas Appi.

Mereka yang disebut-sebut bersaing yakni mantan Plt Ketua Golkar Makassar, Irianto Ahmad, Wakil Ketua DPRD Kota Makassar Andi Nurhaldin, dan eks Sekretaris Musda X DPD II Golkar Makassar Usman Sofyan. Selain itu, ada nama Anggota DPRD Makassar Fraksi Golkar Andi Suharmika, serta senior Golkar, Ochan Syamsinar.

Nama lain yang mewacana yakni Nasran Mone. Mantan Anggota DPRD Kota Makassar tiga periode itu disebut-sebut akan menempati posisi ketua harian.

Yang menarik, mantan Kadis Pendidikan Kota Makassar yang juga merupakan tandem Appi di Pilkada Makassar 2020 lalu, Abdul Rahman Bando, juga dikabarkan masuk ke dalam kepengurusan DPD II Partai Golkar Makassar dan menempati posisi sebagai bendahara.

Nasran Mone yang dikonfirmasi mengaku, sebagai kader bersedia ditempatkan di mana saja. “Mantap juga ini bocoran informasi. Jika dibutuhkan di Golkar Makassar saya siap dan akan bekerja sungguh-sungguh membantu Pak Ketua (Appi),” singkat Nasran Mone.

Adapun Rahman Bando mengakui belum mengetahui wacana tersebut. “Sejauh ini belum ada pembicaraan dengan pak Appi soal itu,” terang Rahman Bando.

Sementara itu, Andi Suharmika mengatakan, komposisi pengurus adalah wewenang sepenuhnya Munafri Arifuddin. “Alhamdulillah kalau memang saya disebut punya kans menjadi bendahara, akan tetapi, sebagai kader, saya siap ditempatkan di posisi manapun oleh ketua,” katanya.

Sekretaris Fraksi Partai Golkar DPRD Makassar ini mengaku siap ditempatkan di posisi apapun oleh ketua formatur terpilih. “Jadi apapun itu yang menjadi keinginan ketua dan amanah Partai Golkar Makassar, saya siap,” tegasnya.

Namun menurutnya, komposisi pengurus Golkar Makassar adalah wewenang sepenuhnya Munafri Arifuddin. “Pak Appi selama ini hanya melakukan konsolidasi kepada seluruh kader Partai Golkar Makassar. Kalau komunikasi terkait kepengurusan, belum pernah,” terangnya.

Sedangkan, Usman Sofyan yang juga Sekertaris Nahdlatul Ulama (NU) Kota Makassar menyatakan kesiapannya bila diamanahkan. “Saya cukup paham bagaimana kerja-kerja Golkar. Tapi itu adalah hak prerogatif ketua pak Appi, kalau beliau amanahkan, saya pasti siap,” terang Usman.

Pengamat politik UIN Alauddin Makassar, Attock Suharto mengatakan, misi rebut komposisi di DPD II Golkar Makassar akan menjadi penting akibat pencapaian partai Beringin merosot pada Pemilu 2019 dan keok pada Gubernur 2018 dan Pilwalkot 2020.

“Maka skuad Appi menghadapi ‘liga politik’ kedepan harus kuat dan solid, dia harus mampu menemukan kerangka tim yang benar-benar siap tempur lantaran posisi Golkar semakin terpuruk,” jelasnya.

Kandidat doktor Ilmu Komunikasi Politik UIN Alauddin ini menyebutkan, sekiranya ada hal penting yang mesti dilakukan Appi untuk mencari sosok sekretaris.

“Diantaranya, mencari figur yang relatif lebih muda, cerdas dan kreatif yang mampu mengagregasi setiap kebijakan partai, dan merombak serta meremajakan kepengurusan agar lebih segar dan energik, setidaknya pengurus kesinambungan cukup 25% saja,” saran Attock.

Sekretaris Dewan penasehat AMPI Makassar ini juga menambahkan bahwa perlunya Appi merombak pimpinan kecamatan dan kelurahan yang tidak produktif.

“Ukuran penilaiannya adalah Pemilu dan Pilkada 2018, 2019 dan 2020, setiap kecamatan dan kelurahan yang kalah telak agar diganti total,” tuturnya.

Dia menambahkan, kepemimpinan Appi perlu menghidupkan kembali ‘Pokkar’ atau kelompok karya yang merupakan basis rekruitmen kader Partai Golkar.

“Serta membuat rancang-bangun kerja-kerja politik kerakyatan untuk menarik kembali simpatik masyarakat untuk menjadikan Golkar sebagai saluran aspirasi politiknya,” pungkasnya. (*)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button