Kesehatan

Vaksin Nusantara Akhirnya Masuk Meja Penelitian.

Compaksulsel.com – Jakarta : Teka-teki kontroversi vaksin nusantara kini terjawab. Kepastian Vaksin Nusantara muncul setelah ditekennya Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Kusumastuti Lukito, dan KSAD Jenderal Andika Perkasa.

Penandatanganan MoU itu dilakukan, Selasa 20 April 2021, di Markas Besar TNI-AD, di Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat.

Dilansir dari Indonesia.go.id, nota kesepahaman ini bertajuk “Penelitian Berbasis Pelayanan Menggunakan Sel Dendritik untuk Meningkatkan Imunitas terhadap Virus SARS COV-2”. Namun, penelitian ini bukan merupakan lanjutan dari uji klinis 1 yang sempat tertunda.

“Uji klinis fase 1 yang sering disebut berbagai kalangan sebagai program vaksin Nusantara ini masih harus merespons beberapa temuan BPOM yang bersifat critical dan major,” ujar Dinas Penerangan TNI-AD (Dispenad) seperti dikutip dari indonesia.go.id, Senin (26/4/2021).

Lebih lanjut, MoU antara Kemenkes, BPOM, dan TNI AD tersebut menyepakati kegiatan pengujian sel dentritik terkait imunitas terhadap Covid-19 dialihkan menjadi penelitian berbasis pelayanan.

Kepala BPOM Penny Kusumastuti Lukito mengatakan pihaknya hanya memberi supervisi. Sementara itu, pengawasannya ada di bawah Kemenkes.

Lewat penandatangan MoU ini, secara tegas pemerintah menyatakan tak ada lagi uji klinis vaksin Nusantara yang berplatform sel dendritik. Riset di RSPAD Gatot Subroto terkait sel dendritik hanya bisa dilihat sebagai peneltian terapan. Hasilnya tidak bisa disebut vaksin. Dengan demikian, uji klinis vaksin Nusantara praktis berakhir.

Vaksin Nusantara sendiri merupakan diinisiasi oleh Letjen Profesor Dr dr Terawan Agus Putranto saat ia menjabat Menteri Kesehatan pada 2020. Berbeda dari vaksin biasa, yang digagas dokter Terawan ini vaksin berplatform sel dendritik.

Program tersebut di luar kegiatan pengembangan vaksin Merah Putih, yang dilakukan oleh konsorsium sejumlah lembaga penelitian dan perguruan tinggi di bawah koordinasi Kementerian Riset/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button